Jumat, 18 Desember 2009

1431 Hijriah | Sang Pemimpi

Walah… setiap hari yang kemarin sudah saya lalui rasanya belum menunjukan bahwa saya pantas hidup di dunia ini. Astagfirullah… Tapi kepercayaan akan kasih sayang Allah kembali membuat hati ini bergerak, kemudian membuat pikiran dan alam bawah sadar saya bermanuver menjelajahi kehidupan yang sementara ini. (bahasanya kok jadi aneh gini ya?)






Kemarin Kamis (17/12) ummat islam di seluruh dunia memperingati Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1431 Hijriah. Namun rasanya tidak ada sambutan luar biasa dan pantas untuk setidaknya menghargai dan mensyukuri akan perjuangan Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah. Saya sedikit miris dan ingin menangis dengan lingkungan masyarakat yang lebih menghargai Hari AIDS Sedunia, kemudian Hari Ibu, kemudian Hari ‘bla..bla..bla” yang rasanya kurang pantas disejajarkan dengan makna besar sebuah Hari 1 Muharram 1431 Hijriah, yang merupakan refleksi perjuangan tiada tara sang Nabi Muhammad kepada ummatnya.

Bukankah Nabi Muhammad lebih layak untuk kita hargai?

Bukankah hanya Nabi Muhammad manusia yang lebih memikirkan ummatnya dibandingkan dirinya sediri?

Bukankah hanya Nabi Muhammad manusia yang ketika meninggalnya menyebut-nyebut kita ummatnya?

Bukankah hanya Nabi Muhammad satu-satunya manusia yang sepatutnya kita junjung tinggi?


Pertanyaan diatas setidaknya bias membuat kita kembali merenung dan berfikir, bahwa ummat ini sudah jauh dari Nabinya. Entah bagaimana jadinya jika kita bertemu dengan Nabi Muhammad saat ini, bagaimana raut wajahnya melihat ummatnya seperti ini?

----------------------------------------------------------------------------------------------

17 Desember 2009 kemarin saya berkesempatan menonton film produksi Mizan “Sang Pemimpi” yang merupakan lanjutan dari film sebelumnya “Laskar Pelangi”. Ya, setidaknya dengan menonton film ini saya kembali termotivasi akan perjuangan untuk meraih kesuksesan.

Film “Sang Pemimpi” menggambarkan perjuangan 3 orang anak yang bermimpi untuk pergi ke Sorborn, Prancis dan berkeliling dunia. Sebuah mimpi yang bisa dikatakan jauh dari keadaan yang mereka punya saat pertama kali mencanangkan mimpi tersebut.




Hari – hari mereka lalui dengan bekerja keras mencari uang dan belajar keras menuntut ilmu demi mencapai mimpi mereka. Dengan semangat yang tinggi dan tidak kenal kata menyerah, dua orang dari mereka (Ikal dan Arai) akhirnya mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Sorborn, Prancis.


Film yang luar biasa… Two Thumbs Up Again… hahaha…


Share/Bookmark

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar...

 
© Copyright by Good is the enemy of Great  |  Template by Blogspot tutorial